Operasi transplantasi liver atau cangkok hati terhadap Ramdan Aldil Saputra (3,5) yang dilakukan tim dokter Rumah Sakit Umum Dokter Sutomo, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (24/04/10), berjalan lancar. Ini merupakan operasi transplantasi hati pertama di RSUD dr Soetomo. Operasi itu berlangsung selama 12 jam 40 menit.
Cangkok hati terhadap Ramdan Aldil Saputra, balita asal Trenggalek, Jawa Timur, anak dari pasangan Bambang Winarto dan Sulistyowati, dilakukan demi menolong nyawa balita itu akibat penyakit atresia bilier yang dideritanya sejak lahir.
Sembilan dokter dari RSUD Dr.Soetomo terlibat dalam operasi besar itu. Operasi juga dipantau tim dokter dari Tiongkok, Cina. “The operation is successful (operasinya sukses, Red). Liver yang didonorkan sudah dicangkokkan dan tidak ada masalah dengan pembuluh darah,” kata Prof Dr dr Shen Zhongyang, Presiden Oriental Organ Transplant Center (OOTC), Tianjin, Tiongkok.
Tim dokter harus mengambil sebagian hati dari Sulistyowati, ibu kandung pasien untuk dicangkokkan ke Ramdan. Operasi tersebut dilakukan dengan amat hati-hati, terutama saat penyambungan pembuluh darah. Keterampilan para dokter ahli RSUD Dr. Soetomo tak perlu diragukan lagi karena pada Januari lalu, sembilan dokter dan dua perawat spesialis telah mendalami transplantasi liver di OOTC, pusat transplantasi organ terbesar di Asia.
Menurut DR. Dr. Hanifah Oswari, Sp.A(K), konsultan gastroentero hepatologi anak dari FKUI/RSCM, cangkok hati diperlukan jika organ hati sudah gagal melakukan tugasnya. “Jika organ hati sudah tidak berfungsi atau gagal hati, diperlukan cangkok hati untuk mempertahankan hidup pasien. Misalnya pada pasien sirosis hati, atresia bilier, atau penyakit metabolisme yang menyebabkan gagal hati menetap,” ujarnya.
Pada kasus atresia bilier yang terjadi pada bayi yang baru lahir dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal, prosedur transplantasi sangat perlu. Penyebab atresia bilier ini belum diketahui pasti tetapi kondisi tersebut ditemukan pada 1 dari 15.000 kelahiran.
Seperti diketahui, hati menghasilkan cairan empedu yang disimpan dalam kantung empedu dan dialirkan melalui saluran empedu. Fungsi dari sistem empedu adalah membuang limbah metabolik dari hati dan mengangkut garam empedu yang diperlukan untuk mencerna lemak di dalam usus halus. Pada atresia bilier terjadi penyumbatan aliran empedu dari hati ke kandung empedu. Hal ini bisa menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati, yang jika tidak diobati bisa berakibat fatal.
Pada saat usia bayi mencapai 2-3 bulan, gejala-gejala seperti gangguan pertumbuhan, gatal-gatal seluruh badan, rewel, tekanan darah tinggi pada pembuluh darah vena dapat timbul dan menyebabkan kualitas hidup menurun.
Untuk pemeriksaan, dokter biasanya mengambil darah pasien untuk melihat apakah terdapat peningkatan kadar bilirubin. Dari pemeriksaan USG abdomen/perut dapat diketahui pembesaran hati. Ada pula kolangiografi yaitu memasukkan cairan tertentu ke jaringan empedu untuk mengetahui kondisi saluran empedu. Lebih lanjut, dapat dilakukan biopsi hati (mengambil sedikit jaringan hati).
Terapi untuk atresia bilier ini prinsipnya adalah mengganti saluran empedu yang mengalirkan empedu ke usus halus. Jika saluran empedu intrahepatik (dalam hati) tidak terganggu, maka operasi rekonstruksi jalur bilier ekstrahepatik (di luar jalur hati) bisa dilakukan.
Operasi rekonstruksi tersebut dinamakan prosedur Kasai atau hepatoportoenterostomy. Teknik ini ditemukan oleh ahli bedah Jepang bernama dr. Morio Kasai. Pembedahan ini dilakukan untuk menghubungkan langsung hati dengan usus halus. Biasanya pembedahan akan berhasil dilakukan sebelum bayi berusia 8 minggu.
Tetapi berbagai penelitian dari Davenport et al. (Ann Surg, 2008) prosedur kasai ini hanya merupakan penanganan sementara, bisa membuat sebagian pasien berumur panjang. Namun, fungsi hati pada sebagian pasien lainnya semakin memburuk setelah dilakukannya tindakan prosedur Kasai. Saat kondisi mulai memburuk inilah, dibutuhkan cangkok hati.
Hati yang dipakai untuk prosedur cangkok harus sehat agar tidak menimbulkan masalah bagi penerimanya. Tidak boleh ada virus atau lemak terlalu banyak. Hati bisa berasal dari donor yang sudah meninggal atau orang yang masih hidup. “Yang penting golongan darah pendonor dan penerima sama walaupun rhesusnya berbeda,” jelas Dr. Hanifah.
Donor yang masih hidup hanya mendonorkan sebagian saja dari hatinya. Meski hanya sebagian, organ hati akan berkembang ke ukuran normal, baik pada si pendonor yang diambil sebagian hatinya ataupun pada si penerima yang mendapat sebagian hati tersebut. Inilah yang disebut daya regenerasi hati. Semakin lanjut umur seseorang, maka daya regenerasi hati akan semakin susut atau berkurang.
Jika biasanya satu hati didonorkan untuk satu orang, dengan membagi hati menjadi dua, pendonor yang sudah meninggal bisa menyumbang hati untuk dua orang yang membutuhkan. Ini menguntungkan karena nantinya hati akan berdegenerasi ke bentuk yang lebih besar. Dan bisa membantu dua orang sekaligus.
Meski demikian, efek samping dari cangkok hati tetaplah ada. Dia menjelaskan bahwa reaksi penolakan wajar terjadi. “Sesuatu yang berasal dari luar tubuh, seperti yang terjadi dalam transplantasi, akan ditolak oleh tubuh. Itu wajar. Namun, penolakan akan lebih kecil jika golongan darah pendonor dan penerima sama,” ungkap Dr. Hanifah yang mempelajari cangkok hati di Brisbane, Australia itu.
Harapan hidup penerima cangkok hati tergolong tinggi. Angka ini pun berbeda di tiap negara. Di negara maju, 90 persen penerima cangkok hati masih bertahan hidup setelah satu tahun. Bahkan, si penerima bisa bertahan sampai lima hingga sepuluh tahun kemudian.
”Di Indonesia baru ada dua tindakan cangkok hati yang dilakukan di RSUP Dokter Kariadi Semarang. Yang satu berhasil bertahan hingga sekarang. Satu lagi saya tidak tahu kabarnya. Yang jelas, secara umum harapan hidup akan lebih besar jika cangkok hati dilakukan pada masa anak-anak dibanding orang dewasa,” tuturnya.
Di rumah sakit itulah Bilqis Anindya Passa, balita penderita atresia bilier akhirnya meninggal dunia, Sabtu (10/4), setelah dirawat intensif selama sekitar dua bulan. Menurut tim dokter, Bilqis mengalami infeksi di organ paru-paru akibat serangan bakteri ganas. Daya tahan tubuh bocah 19 bulan itu menurun dan sesak napas.
Sehari sebelumnya, rencana cangkok hati yang menelan biaya sekitar Rp 1 miliar belum bisa dilaksanakan karena berat badan Bilqis belum memenuhi syarat. Yah, biaya cangkok hati sangat fantastis. Kisarannya antara 800 juta hingga 1,1 miliar rupiah. Biaya yang sangat mahal untuk sebuah hati. DGR (Berita Indonesia 76)
Atresia Bilier adalah suatu keadaan yang terjadi pada bayi yang baru lahir dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal. Penyebab atresia bilier ini tidak diketahui tetapi kondisi tersebut ditemukan pada 1 dari 15000 kelahiran. Atresia Bilier temukan jawab di tanyadok.com portal informasi layanan kesehatan untuk menemukan penyebab dan cara penangulangannya.
BalasHapus